Affan, Ojol Malang Nasib – Tewas di Roda Brimob Saat Demo DPR RI

Nasional255 Dilihat

Jakarta – 30 Agustus 2025, Inilahkabar.com,  Affan, Ojol Malang Nasib – Tewas di Roda Brimob Saat Demo DPR RI, Nama Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol), mendadak jadi sorotan publik. Bukan karena prestasi, melainkan karena takdir pahit. Ia meregang nyawa setelah terlindas mobil taktis Brimob saat kericuhan demonstrasi di depan Gedung DPR RI. Tragedi ini menjadi luka baru bagi demokrasi, luka yang viral di media sosial, dan sekaligus cambuk moral bagi bangsa yang katanya menjunjung tinggi kemanusiaan.

Teriakan yang Jadi Doa

Video yang merekam detik-detik tragis itu tersebar luas. Teriakan saksi, penuh panik dan getir, menggema: “Ya Allah, ya Allah, diinjak, diinjak! Elsa, Elsa diinjak!”

Baca Juga : Tragedi Pejompongan, Nyawa Ojol yang Terlindas Brimob

Dalam rekaman, terlihat mobil Brimob melaju kencang ke arah kerumunan massa. Para demonstran berhamburan, namun Affan yang sedang berada di jalur itu tak sempat menghindar. Tubuhnya tersungkur, roda besi raksasa itu melintas, dan seketika suasana berubah mencekam.

Bagi penonton layar, itu hanya hitungan detik. Bagi Affan, itu adalah detik terakhir hidupnya.

Demo yang Berujung Tragedi

Unjuk rasa di depan DPR RI sore itu sebetulnya dimulai dengan damai. Ribuan massa hadir: mahasiswa, aktivis, buruh, hingga warga biasa. Spanduk dibentangkan, orasi digemakan, tuntutan disuarakan.

Namun, menjelang malam, suasana berubah panas. Polisi berusaha membubarkan massa. Gas air mata ditembakkan, sirine meraung, dan kendaraan taktis bergerak maju. Di titik inilah, tragedi bermula.

Seorang saksi mata bernama Abdul (29) menyebut mobil itu melaju ugal-ugalan. “Dia bukan cuma ngebut, tapi nyoba nabrakin siapa aja yang ada di depan. Affan apes, nggak sempat kabur, langsung dihajar, jatuh, terus dilindas. Sadis banget,” katanya.

Publik Murka, Linimasa Meledak

Tak butuh waktu lama, video itu viral. Tagar #JusticeForAffan, #OjolTerlindas, dan #BrimobSadis menduduki trending topic di Twitter (X).

Netizen menyerbu dengan kecaman. “Seharusnya aparat menjaga, bukan melindas,” tulis seorang warganet. Yang lain menambahkan, “Nyawa rakyat kecil selalu murah di mata kekuasaan. Inilah wajah asli demokrasi kita.”

Kemarahan digital meluas. Dari Instagram, TikTok, hingga WhatsApp group, semua membicarakan satu nama: Affan. Ia bukan lagi sekadar ojol, tapi simbol luka rakyat kecil.

Polisi Minta Maaf, Publik Skeptis

Kepolisian lewat konferensi pers resmi menyampaikan duka cita. Mereka berjanji mengusut kasus ini, bahkan tujuh anggota Brimob disebut telah diperiksa. “Kami turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya. Investigasi akan dilakukan transparan,” ujar juru bicara Polri.

Lihat Juga : Demo Jakarta Trending, Warganet Malang Ikut Komentarin

Namun, publik masih meragukan. Sejarah mencatat, banyak kasus serupa berakhir tanpa kejelasan. Apakah tragedi Affan akan benar-benar diusut tuntas, atau hanya jadi headline sesaat yang menguap ditelan waktu?

Dari Jalan Raya ke Lini Masa

Affan hanyalah seorang rakyat biasa. Pekerja ojol yang hidupnya bergantung pada orderan harian. Namun, kematiannya mengubah peta narasi. Dari jalan raya, kisahnya melompat ke lini masa, jadi bahan diskusi filsafat sosial, bahkan jadi meme satir di TikTok.

Generasi muda melihat ini bukan sekadar tragedi. Mereka mengangkatnya jadi simbol perlawanan. Karena di era digital, melawan bisa dengan meme, tagar, dan narasi viral.

Luka Demokrasi

Kejadian ini menampar wajah demokrasi Indonesia. Demo seharusnya jadi ruang ekspresi. Namun ketika rakyat kecil justru menjadi korban, ada ironi besar yang tak bisa disembunyikan.

Filsuf Prancis Albert Camus pernah menulis: “Yang absurd bukan hidup, melainkan bagaimana manusia memperlakukannya.”
Dan absurditas itu kini nyata di aspal Jakarta: seorang ojol, yang bukan bagian dari kericuhan, justru jadi korban mesin kekuasaan.

Pelajaran dari Tragedi Affan

Tragedi Affan menyisakan pelajaran penting:

  1. Nyawa Rakyat Tidak Boleh Murah – Setiap jiwa berharga, tanpa kecuali.

  2. Dialog Lebih Utama daripada Represi – Aparat seharusnya mengutamakan komunikasi.

  3. Transparansi Hukum adalah Harga Mati – Investigasi harus jelas, akuntabel, dan terbuka.

  4. Demokrasi Bukan Sekadar Formalitas – Hak rakyat untuk bersuara harus dihormati.

Doa di Tengah Jeritan

Nama Affan kini abadi dalam ingatan publik. Bukan sebagai ojol yang sibuk mengejar order, tapi sebagai rakyat kecil yang tewas di roda kekuasaan.

Teriakan “Ya Allah, ya Allah, diinjak!” yang viral itu mungkin terdengar getir. Tapi justru di situlah doa lahir. Doa rakyat kecil yang suaranya sering diremehkan, namun justru menggema paling kuat.

Tragedi ini akan dikenang, bukan hanya sebagai kecelakaan, tapi sebagai cermin kelam demokrasi. Pertanyaannya: apakah bangsa ini akan belajar, atau kembali mengulang luka yang sama?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *