14 Tewas, 50 Hilang dalam Reruntuhan Sekolah di Pesantren Sidoarjo

Nasional626 Dilihat

Sekolah yang Runtuh, Harapan yang Ikut Tertimbun

14 Tewas, 50 Hilang dalam Reruntuhan Sekolah di Pesantren Sidoarjo Jawa Timur, kembali jadi sorotan setelah bangunan sekolah di lingkungan sebuah pesantren roboh pada awal Oktober 2025. Peristiwa itu menelan korban jiwa sedikitnya 14 orang, sementara sekitar 50 siswa masih dinyatakan hilang di bawah puing. Kejadian ini terjadi pada Selasa sore, saat sebagian besar siswa tengah beraktivitas belajar dan sebagian lainnya bersiap untuk salat.

Baca Juga : 14 Tewas, 50 Hilang dalam Reruntuhan Sekolah di Pesantren Sidoarjo

Suasana berubah menjadi kepanikan. Teriakan minta tolong terdengar dari balik reruntuhan, sementara debu tebal menutup pandangan. Tim SAR yang tiba beberapa jam kemudian langsung memulai proses evakuasi, meski kondisi bangunan yang rapuh membuat pekerjaan semakin berbahaya.

Kronologi Runtuhnya Bangunan

Bangunan yang ambruk adalah bagian dari sekolah pesantren yang tengah direnovasi. Informasi awal menyebutkan adanya tambahan lantai tanpa perhitungan struktur yang matang. Pondasi lama tidak mampu menahan beban baru, hingga akhirnya roboh menimpa ruang kelas di lantai bawah.

“Awalnya terdengar suara retakan, lalu semua runtuh begitu saja,” ujar Ahmad (16), salah satu siswa yang selamat. Ahmad mengalami luka di bagian kaki, namun masih bisa keluar dengan bantuan temannya.

Kejadian berlangsung cepat, hanya dalam hitungan detik. Dalam waktu singkat, puluhan siswa terjebak, guru panik, dan warga sekitar berlarian mencoba membantu sebelum tim penyelamat datang.

Suara dari Korban dan Keluarga

Bagi keluarga korban, tragedi ini menyisakan duka mendalam. Sulastri (40), ibu dari seorang siswa yang hilang, menitikkan air mata saat bercerita. “Anak saya baru seminggu mondok di sini. Katanya biar lebih rajin belajar agama. Saya tidak menyangka justru dapat kabar seperti ini,” katanya dengan suara bergetar.

Lihat Juga : Indonesia Bidik Tiket Piala Dunia, Duel Kontra Saudi & Irak Menanti

Tim medis juga kewalahan menangani korban. Beberapa siswa dilarikan ke rumah sakit dengan luka patah tulang, sesak napas, dan trauma. “Yang paling berat bukan hanya luka fisik, tapi juga trauma psikologis. Banyak anak yang masih ketakutan setiap kali mendengar suara keras,” ungkap dr. Rina, dokter yang bertugas di RSUD Sidoarjo.

Kenapa Bangunan Bisa Roboh?

Pertanyaan besar pun muncul: mengapa bangunan bisa runtuh? Dari hasil pemeriksaan awal, diduga ada beberapa faktor utama. Pertama, proses renovasi tidak mengikuti standar konstruksi. Kedua, pengawasan dari pihak berwenang kurang ketat. Ketiga, ada indikasi pembangunan tambahan dilakukan tanpa izin resmi.

“Bangunan pendidikan seharusnya memiliki standar keamanan tinggi. Kalau ada pelanggaran, ini bukan sekadar kelalaian, tapi bisa masuk ranah pidana,” tegas Ir. Budi Santoso, ahli konstruksi dari Universitas Brawijaya.

Dampak Sosial dan Psikologis

Runtuhnya sekolah ini bukan hanya soal jumlah korban. Ada dampak sosial yang jauh lebih besar. Masyarakat mulai merasa was-was dengan kualitas bangunan sekolah lain. Orang tua mempertanyakan, apakah anak mereka benar-benar aman belajar di ruang kelas?

Di media sosial, tagar #DoaUntukSidoarjo sempat menjadi trending. Ribuan netizen mengirim doa, namun juga menyuarakan kritik terhadap lemahnya pengawasan pembangunan sekolah dan pesantren di Indonesia.

Tugas Berat Tim SAR

Hingga dua hari setelah kejadian, tim SAR masih terus menggali reruntuhan. Mereka menggunakan alat berat sekaligus cara manual untuk mencapai titik yang diduga masih ada korban. Tantangan terbesar adalah kondisi bangunan yang rapuh, ditambah gempa susulan yang mengguncang Sumenep sempat membuat proses evakuasi terhenti.

Baca Juga : Keracunan Makanan Sekolah Meluas, Ribuan Orang Dilarikan ke Rumah Sakit

“Setiap detik sangat berarti. Kami berharap masih ada korban yang bisa diselamatkan,” kata Heri Susanto, komandan tim SAR Jawa Timur.

Filosofi di Balik Tragedi

Generasi muda memandang tragedi ini bukan hanya bencana fisik, tapi juga cermin kelalaian manusia. Filosofi sederhana lahir: pendidikan seharusnya membangun, bukan meruntuhkan. Bangunan sekolah adalah simbol masa depan, dan ketika ia roboh, seolah mimpi anak-anak ikut terkubur.

Banyak mahasiswa Malang ikut menggalang aksi solidaritas. Mereka mengumpulkan donasi untuk korban, sekaligus menyerukan agar standar keselamatan sekolah diprioritaskan. “Belajar itu hak anak. Jangan sampai hak itu justru membahayakan nyawa mereka,” ujar Nadia (21), mahasiswa yang terlibat aksi.

Solusi dan Jalan ke Depan

Agar tragedi serupa tidak terulang, ada beberapa langkah penting yang harus diambil:

  1. Audit Bangunan Sekolah dan Pesantren – Pemerintah daerah dan pusat harus segera melakukan audit konstruksi di semua fasilitas pendidikan.

  2. Standar Keamanan yang Ketat – Pembangunan baru wajib melalui perhitungan teknis profesional, bukan sekadar keinginan menambah ruang.

  3. Pengawasan dan Penegakan Hukum – Jika ditemukan pelanggaran izin, harus ada tindakan hukum tegas.

  4. Dukungan Psikologis – Korban selamat, terutama anak-anak, butuh pendampingan psikologis agar tidak trauma berkepanjangan.

  5. Pendidikan Publik – Masyarakat perlu diedukasi tentang pentingnya keamanan bangunan, agar lebih berani menolak jika ada pembangunan tanpa standar.

Dari Reruntuhan Menuju Harapan

Tragedi ambruknya sekolah di pesantren Sidoarjo menyisakan luka yang dalam. Empat belas nyawa melayang, puluhan anak masih hilang, dan ratusan keluarga berduka. Namun, dari reruntuhan ini juga lahir pelajaran berharga: bahwa keselamatan anak-anak harus lebih utama daripada kepentingan apapun.

Masyarakat berharap, pemerintah tidak hanya hadir saat bencana, tapi juga memastikan setiap sekolah di Indonesia berdiri kokoh dan aman. Karena pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi rumah kedua bagi anak-anak untuk bermimpi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *