Dari Aristoteles hingga Aplikasi Pinjol: Apa yang Salah dengan Kita? Aristoteles pernah mengajarkan tentang eudaimonia—hidup baik yang tercapai lewat kebajikan, keseimbangan, dan kebijaksanaan dalam memilih. Bagi filsuf Yunani ini, manusia seharusnya mengendalikan hasratnya, bukan dikendalikan olehnya. Namun, di era digital, prinsip itu tampaknya semakin sulit dipegang, terutama saat godaan uang instan dari aplikasi pinjaman online (pinjol) ada di genggaman kita.
Pinjol hadir dengan janji kemudahan: proses cepat, tanpa tatap muka, dan dana langsung cair. Namun, di balik kemudahan ini, tersembunyi bunga tinggi, denda mencekik, dan risiko jebakan psikologis yang membuat penggunanya terikat dalam lingkaran utang. Apa yang dulu oleh Aristoteles dianggap sebagai kekurangan pengendalian diri (akrasia), kini difasilitasi dan dipromosikan oleh teknologi.
Baca Juga : Pinjaman Online: Godaan Manis yang Bisa Mengikat Jiwa
Kita hidup di zaman di mana “hidup baik” sering diartikan sebagai kemampuan memenuhi semua keinginan dengan cepat. Padahal, dalam kerangka filsafat klasik, hidup baik menuntut kita untuk menunda kesenangan demi tujuan yang lebih luhur. Pinjol memutarbalikkan logika itu—menawarkan kebahagiaan semu yang dibayar dengan kebebasan masa depan.
Aristoteles dan Prinsip Keseimbangan
Bagi Aristoteles, kebajikan adalah titik tengah antara dua ekstrem—tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Misalnya, keberanian adalah titik tengah antara kenekatan dan ketakutan. Dalam konteks finansial, meminjam uang bisa menjadi tindakan bijak jika dilakukan untuk kebutuhan mendesak dan dengan perhitungan matang. Namun, meminjam demi memuaskan keinginan instan adalah bentuk ketidakseimbangan yang berujung pada kerugian.
Lihat Juga : Kenapa Hidup Terasa Kosong? Kisah Nyata Raka Mencari Makna Hidup
Aplikasi pinjol memanfaatkan kecenderungan manusia untuk melampaui batas keseimbangan itu. Tawaran bunga “ringan” dan proses tanpa ribet membuat kita sulit menolak, apalagi saat berada di titik lemah secara emosional atau finansial.
Kisah Nyata yang Menggugah
Andi (25), pekerja kreatif di Jakarta, awalnya meminjam Rp2 juta untuk membeli peralatan kerja tambahan. “Saya pikir ini investasi,” katanya. Namun, ketika cicilan terasa berat, ia meminjam dari aplikasi lain untuk menutup pembayaran. Dalam enam bulan, total utangnya membengkak jadi Rp12 juta. Bunga dan denda yang menumpuk membuatnya kehilangan setengah gajinya tiap bulan. “Saya merasa seperti bekerja bukan untuk hidup, tapi untuk membayar masa lalu,” ujarnya.
Kisah lain datang dari Dina (28), seorang karyawan ritel. Ia meminjam Rp3 juta untuk biaya pengobatan ibunya. Namun karena gaji bulanannya tak cukup menutup semua kewajiban, ia terpaksa meminjam dari tiga aplikasi lain. Dalam waktu singkat, bunga yang menumpuk membuat total utangnya lebih besar dari gajinya. “Awalnya saya pikir ini hanya solusi sementara, tapi ternyata ini jadi mimpi buruk,” kata Dina. Kini, hampir semua penghasilannya habis untuk membayar cicilan.
Kedua kisah ini menunjukkan bahwa kita sering mengabaikan prinsip pengendalian diri yang diajarkan para filsuf kuno, bahkan saat teknologi sudah mempermudah segalanya.
Teknologi dan Akrasia
Aristoteles menyebut akrasia sebagai kelemahan kehendak—tahu apa yang benar, tetapi tetap melakukan yang salah. Pinjol membuat akrasia semakin mudah terjadi. Notifikasi promosi, kemudahan login, dan proses sekali klik membuat kita mengambil keputusan finansial tanpa berpikir panjang.
Lihat Juga : Stoikisme di Era TikTok: Seni Tenang Saat Dunia Berisik
Jika di zaman kuno kita harus berjalan ke pasar atau menemui pemberi pinjaman, kini seluruh proses terjadi di layar ponsel dalam hitungan menit. Hambatan moral dan waktu yang dulu menjadi rem alami kini nyaris hilang.
Pelajaran dari Filsafat
Masalahnya bukan hanya soal pinjol, tetapi bagaimana kita memaknai uang dan kebebasan. Filsafat mengingatkan bahwa kebebasan bukan berarti melakukan apa pun yang kita mau, tetapi memiliki kendali penuh atas pilihan kita. Pinjol mungkin menawarkan solusi cepat, tapi jika mengorbankan masa depan, itu bukanlah kebebasan—melainkan bentuk perbudakan modern.
Penutup
Dari Aristoteles hingga era aplikasi pinjol, pelajaran yang sama terus bergema: kendalikan diri sebelum dunia mengendalikan Anda. Teknologi bisa menjadi alat yang bermanfaat, tetapi tanpa kebijaksanaan, ia hanya akan mempercepat langkah kita menuju jurang yang sama.







