MALANG – Tim Dosen Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) bekerja sama dengan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kota Malang menggelar lokakarya bertajuk “Literasi Politik Berbasis Jaringan: Optimalisasi Peran Kader Muda NU sebagai Penggerak Pemilih Kritis” di Kantor PCNU Kota Malang, Rabu (29/7/2026).
Kegiatan yang diikuti puluhan kader muda Nahdlatul Ulama (NU) dari unsur Fatayat NU, IPNU, IPPNU, Gerakan Pemuda Ansor, dan PMII tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas generasi muda dalam memahami dinamika politik, memperkuat literasi demokrasi, serta mendorong lahirnya pemilih yang kritis dan bertanggung jawab.
Ketua pelaksana kegiatan pengabdian, Ahmad Hasan Ubaid, mengatakan program ini diselenggarakan sebagai upaya memperkuat peran organisasi kepemudaan NU dalam membangun budaya politik yang kritis di tengah meningkatnya tantangan demokrasi digital, seperti penyebaran disinformasi, politik identitas, dan praktik politik uang.
“Kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan politik peserta, tetapi juga membangun jejaring kader muda NU agar mampu menjadi agen pendidikan politik di lingkungan masing-masing.” kata Hasan.
Sementara itu, anggota tim pengabdian, Romel Masykuri, menjelaskan bahwa penguatan literasi politik menjadi penting karena pemilih muda saat ini mendominasi struktur pemilih nasional. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, yang merujuk pada data KPU di Pemilu 2024, pemilih dari kalangan Generasi Z dan Milenial mencapai sekitar 56 persen dari total pemilih secara nasional. Namun, besarnya jumlah tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh partisipasi politik yang optimal.
Menurut Romel, hal tersebut tercermin dari tingkat partisipasi masyarakat dalam Pilkada Kota Malang 2024 yang mencapai 64,48 persen, atau masih berada di bawah target partisipasi yang ditetapkan oleh KPU Kota Malang. Selain itu, rendahnya literasi mengenai regulasi kepemiluan membuat sebagian generasi muda masih rentan terhadap praktik politik transaksional, termasuk praktik politik uang.
Di sisi lain, tingginya ketergantungan pemilih pemula pada media sosial sebagai sumber informasi politik juga meningkatkan risiko terpapar hoaks, disinformasi, serta polarisasi identitas di ruang digital. “Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan utama diselenggarakannya program pengabdian ini,” kata Romel.
Lokakarya juga menghadirkan Sekretaris PCNU Kota Malang, Prof. Dr. KH. M. Faisol Fatawi, M.Ag., sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya kader muda NU menjadi agen pendidikan politik di tengah masyarakat agar demokrasi tidak hanya berjalan secara prosedural, tetapi juga berkualitas.
“Kader muda NU memiliki potensi luar biasa untuk menjadi penggerak lahirnya pemilih yang kritis. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dimaksimalkan melalui penguatan literasi politik dan jejaring organisasi kepemudaan NU,” ujar Faisol.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang berlangsung aktif. Peserta dari PMII, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, dan Gerakan Pemuda Ansor saling bertukar pandangan mengenai berbagai persoalan politik yang mereka temukan di lingkungan organisasi maupun masyarakat. Diskusi berlangsung secara interaktif dengan melibatkan narasumber dan seluruh peserta. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, FISIP UB berharap kader muda NU tidak hanya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang literasi politik, tetapi juga mampu menjadi penggerak pendidikan politik di lingkungan masing-masing. Dengan demikian, mereka diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas demokrasi, memperkuat partisipasi politik masyarakat, serta menangkal praktik politik uang dan penyebaran disinformasi.

