Hilang Tahun ke-14, Pesantren Luhur Baitul Hikmah Padukan Syiar, Syair, dan Sains

Advertorial301 Dilihat

MALANG — Pesantren Luhur Baitul Hikmah yang berlokasi di Kepanjen, Kabupaten Malang, kembali menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan intelektual dan spiritual melalui peringatan Hilang Tahun ke-14. Perayaan yang dirangkai dengan agenda Temu Alumni ini berlangsung selama dua hari, 13–14 Desember 2025, dengan mengusung tema Syiar, Syair, dan Sains.

Baca Juga : Hilang Tahun & Temu Alumni 2025 Pesantren Luhur Baitul Hikmah – Syiar, Syair & Sains

Tema tersebut mencerminkan karakter khas Pesantren Luhur Baitul Hikmah yang selama ini dikenal konsisten memadukan nilai keislaman, tradisi sastra, serta penguatan nalar ilmiah. Hilang Tahun tidak hanya dimaknai sebagai peringatan usia lembaga, tetapi juga sebagai momentum refleksi dan aktualisasi peran pesantren dalam membangun peradaban berbasis ilmu pengetahuan.

Rangkaian kegiatan Hilang Tahun ke-14 sejatinya telah dimulai lebih awal, tepatnya sejak 6 Desember 2025. Pada fase awal ini, pesantren menggelar sejumlah forum akademik berupa bedah buku, diskusi tesis, serta kajian jurnal ilmiah yang merupakan karya santri dan alumni. Aktivitas tersebut menjadi bukti bahwa kultur literasi di lingkungan pesantren terus dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Ketua Pelaksana Hilang Tahun ke-14, Abdur Rohim, menyampaikan bahwa perayaan ini dirancang sebagai ruang dialog antara iman, pengetahuan, dan pemikiran kritis. Menurutnya, pesantren harus tetap hadir sebagai pusat produksi gagasan, bukan sekadar institusi ritual keagamaan.

“Hilang Tahun bukan sekadar agenda seremonial. Ini adalah ikhtiar untuk merawat tradisi berpikir, menumbuhkan budaya membaca dan menulis, serta menguatkan posisi pesantren sebagai ruang pembelajaran yang terbuka dan relevan dengan zaman,” ungkapnya.

Artikel Terkait : Puncak Peradaban Sarung – Hilang Tahun & Temu Alumni 2025 , Pesantren Luhur Baitul Hikmah Malang

Ia menambahkan, di tengah kecenderungan pragmatisme dan arus informasi instan, pesantren justru memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kedalaman berpikir dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.

Memasuki rangkaian utama perayaan, Pesantren Luhur Baitul Hikmah menjalin kolaborasi dengan Gramedia Kayutangan Malang dengan menghadirkan agenda Semesta Buku dan bazar literasi. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, 12–14 Desember 2025, dan terbuka untuk santri, alumni, serta masyarakat umum.

Kerja sama tersebut dinilai menjadi langkah strategis dalam memperluas akses bacaan berkualitas, sekaligus mendekatkan dunia perbukuan dengan komunitas pesantren. Ribuan judul buku dari berbagai disiplin ilmu ditampilkan, mulai dari keislaman, sastra, filsafat, hingga sains populer.

Lurah Pesantren Luhur Baitul Hikmah, Farid Ramadhan, menyebut Hilang Tahun sebagai tradisi intelektual yang telah mengakar kuat. Ia menilai pelaksanaan tahun ini terasa lebih dinamis karena melibatkan lebih banyak elemen dan memperpanjang durasi kegiatan.

“Biasanya Hilang Tahun identik dengan diskusi buku dan pameran karya santri. Tahun ini skalanya lebih luas, partisipannya beragam, dan atmosfer literasinya sangat terasa,” ujarnya.

Pada Sabtu pagi, 13 Desember 2025, suasana pesantren dipenuhi keceriaan ratusan anak yang mengikuti lomba mewarnai tingkat Taman Kanak-Kanak. Peserta berasal dari berbagai lembaga pendidikan anak usia dini di wilayah Tegalsari dan sekitarnya. Kegiatan ini menjadi simbol keterbukaan pesantren sebagai ruang edukasi yang ramah anak dan inklusif.

Siang harinya, kegiatan berlanjut dengan kelas menulis kreatif yang diikuti peserta dari beragam latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, pengelola taman baca, hingga pustakawan. Sesi ini dipandu oleh Matthew Fenat dan Wienny Siska dari Elex Media Komputindo, yang membagikan pengalaman serta teknik dasar dalam menulis kreatif dan pengelolaan ide.

Tidak berhenti pada literasi teks, Hilang Tahun ke-14 juga menghadirkan pelatihan keterampilan praktis. Pada sore hari, peserta mengikuti kelas Microsoft Excel dasar sebagai upaya penguatan literasi digital dan numerasi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan pengelolaan data modern.

Puncak perayaan ditandai dengan agenda Ngaji Literasi bersama Kang Maman Suherman, yang dikenal luas sebagai pegiat literasi nasional. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan filsafat oleh Fahruddin Faiz, yang mengajak peserta merefleksikan peran ilmu dan kebijaksanaan dalam kehidupan manusia.

Baca Juga  : Dari Filosofi ke Aplikasi, Luhurian Sebagai Gerakan Digital

Menurut Abdur Rohim, kehadiran tokoh-tokoh literasi dan pemikir nasional tersebut mempertegas posisi pesantren sebagai simpul penting dalam ekosistem keilmuan. “Pesantren tidak boleh terpinggirkan dari percakapan intelektual. Justru dari pesantrenlah nilai, etika, dan pemikiran kritis dapat terus disemai,” tuturnya.

Melalui Hilang Tahun ke-14, Pesantren Luhur Baitul Hikmah kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga tradisi syiar keilmuan, merawat syair kebudayaan, serta mengembangkan sains sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan pesantren dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *