Pedagang Buku Bekas Blauran Surabaya Sepi Pembeli, Pagi yang biasanya ramai dengan aktivitas tawar-menawar buku di deretan kios lantai atas Pasar Blauran, Surabaya, kini hanya menyisakan deru kipas angin dan tumpukan buku yang sulit berpindah tangan.
Baca Juga : Pedagang Buku Bekas Blauran Surabaya Sepi Pembeli
Pedagang seperti Pak Slamet (58) dan Bu Lina (45) menatap kosong meja dagang mereka tanpa kunjungan pembeli. Meski lokasi strategis — tepatnya di Jalan Kranggan, Sawahan, dekat BG Junction — keramaian yang dulu menghiasi sudut literasi kota itu semakin pudar. Mengapa pembeli enggan datang? Siapa yang terdampak? Apa akar masalahnya — dan bagaimana jalan keluarnya?
Pasar Blauran sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra buku bekas di Surabaya, bersama kawasan lain seperti Kampung Ilmu. Di masa keemasannya, mahasiswa, pelajar, hingga kolektor buku datang berburu edisi langka atau buku paket dengan harga miring.
Namun kini “surganya buku murah” itu mulai kehilangan pesonanya. Menurut laporan, beberapa kios buku sudah tutup permanen. Beberapa pedagang tetap buka, tetapi hanya ditemani sesekali pengunjung yang lewat, bukan pembeli aktif.
Testimoni pedagang dan pengunjung
Pak Slamet mengaku seminggu terakhir tak menjual satu buku pun. “Dulu tiap pagi saya bisa jual 10–20 buku. Sekarang, belum ada satu pun,” ujarnya.
Bu Lina, yang menjual buku pelajaran dan komik bekas, berharap ada pembeli yang mampir saat jam istirahat kantor, namun realitanya sering kosong.
Seorang mahasiswa yang datang hanya untuk memantau koleksi mengatakan, “Saya lebih sering beli buku bekas lewat online. Praktis dan tinggal tunggu paket.”
Fenomena serupa juga terlihat di Kampung Ilmu (Jalan Semarang), yang dulu penuh kios buku bekas. Kini suasananya sepi, kios tutup sebagian, dan beberapa pedagang beralih menjual di marketplace.
Lihat Juga : Setahun Prabowo–Gibran, Ketika Hukum Masih Jadi Bayangan Kekuasaan
Perubahan pola konsumsi buku (alih ke e-book, audiobook, atau platform daring), kebiasaan belanja online, dan kompetisi dengan toko buku modern menjelang diskon besar menjadi faktor yang tak bisa diabaikan.
Pandangan masyarakat umum
Masyarakat menghargai keberadaan Pasar Blauran sebagai ruang nostalgia dan ruang literasi alternatif. Beberapa orang berharap pemerintah kota atau komunitas budaya bisa menolong agar pasar buku bekas tidak hilang dari peta kota Surabaya.
Akar Masalah
Perubahan perilaku konsumen
Generasi muda dan banyak pembaca kini memilih membeli buku secara daring (e-commerce) atau menggunakan platform digital karena kemudahan dan kecepatan pengiriman. Buku bekas fisik dianggap “ribet” oleh sebagian orang.Biaya operasional dan persaingan
Sewa kios, biaya listrik, kebersihan, keamanan — semua itu menjadi beban besar yang sulit ditutup jika volume penjualan rendah. Pedagang pun kesulitan bersaing dengan toko buku modern yang memberikan promo besar dan sistem distribusi efisien.Minimnya promosi dan adaptasi digital
Sebagian besar pedagang buku bekas masih mengandalkan metode tradisional: pajang buku di meja, beri tanda harga, dan menunggu pengunjung datang. Mereka belum banyak menggunakan media sosial, katalog daring, atau kolaborasi event literasi untuk menarik perhatian generasi muda.Lokasi dan penataan kurang menarik
Lapak buku bekas di Pasar Blauran kadang berada di sudut gelap atau lorong sempit dengan pencahayaan terbatas—membuat pengunjung enggan berlama-lama. Kurangnya kenyamanan membuat pengalaman membaca langsung di kios menjadi kurang atraktif.Kurangnya dukungan institusional & komunitas
Tidak banyak intervensi dari pemerintah kota, institusi pendidikan, atau komunitas literasi untuk merawat keberlangsungan pasar buku bekas sebagai bagian dari warisan budaya literasi kota.
Sebab dan Akibat
Karena penjualan turun drastis, pendapatan pedagang mengecil → beberapa kios tutup → jumlah pilihan buku di pasar menyusut → pembeli makin jarang datang (spiral negatif).
Baca Juga : 5 Alasan Harga BBM Malaysia Lebih Murah dari Indonesia
Karena kurang eksposur digital, buku-buku bagus tak tampil di jagat daring → pembeli potensial di dunia maya memilih alternatif lain → pendapatan makin tergerus.
Karena suasana kios kurang nyaman dan penataan tak menarik, pengunjung yang lewat malas “memasuki” area buku bekas → konversi pengunjung ke pembeli rendah.
Pandangan pakar & literatur
Sejumlah riset menunjukkan bahwa agar pasar tradisional bertahan di era digital, mereka harus mengadopsi strategi omnichannel, yaitu menggabungkan kelebihan fisik dan digital (misalnya katalog online + pickup di lokasi). Selain itu, pasar harus menjadi ruang komunitas, bukan sekadar tempat transaksi, agar pembeli merasa punya ikatan emosional.
Menurut pakar ekonomi kreatif, pasar buku bekas bisa dikelola sebagai ‘pasar budaya’ apabila dipasangkan event literasi, bazar buku, workshop menulis, atau ruang baca komunitas — memperkuat keterikatan sosial dan nilai estetika lokasi.
Solusi Konkret
Berikut beberapa langkah realistis yang bisa diambil, baik oleh pedagang sendiri, komunitas, maupun pemangku kebijakan:
Untuk pedagang & asosiasi
Katalog digital & marketplace
Buat katalog koleksi buku bekas (foto + deskripsi + harga), lalu pasarkan di Instagram, Facebook, Tokopedia, Shopee (sebagai outlet “Pasar Blauran Buku Bekas”). Sertakan fitur “lihat & ambil langsung” agar orang bisa cek fisik.Kolaborasi komunitas & event literasi
Gandeng komunitas buku, sekolah, kampus — adakan bazar buku, pesta diskon literasi, konser mini, atau workshop kepenulisan di area kios buku agar tempat ini hidup secara sosial.Upgrade tampilan kios & kenyamanan pengunjung
Pasang lampu LED yang cukup, cat dinding warna cerah, rak buku rapi, dan area duduk kecil agar pengunjung bisa membuka buku sebelum membeli. Tambahkan papan nama menarik agar menarik orang lewat.Paket bundling & diskon kreatif
Misalnya: beli 3 buku dapat diskon, paket semester (buku pelajaran + catatan), atau program “tukar buku lama untuk diskon”.Digital payment & promo online-to-offline (O2O)
Sediakan pembayaran QRIS (QR Indonesia) agar pembeli tak tergantung uang tunai. Jalankan promo “kupon online, klaim di kios Blauran” untuk mendatangkan traffic fisik.
Untuk pemerintah & institusi lokal
Dukungan fasilitas & insentif
Pemerintah kota dapat memberi subsidi listrik, kebersihan, atau renovasi kios agar lebih representatif.Promosi pariwisata literasi kota
Jadikan pasar buku bekas Blauran sebagai destinasi wisata literasi di Surabaya, dipromosikan melalui situs pariwisata dan media sosial kota.Kemitraan sekolah & perpustakaan
Sekolah dan perpustakaan bisa menjalin program “pembelian buku bekas siswa”, “donasi buku bekas”, atau “kunjungan literasi Pasar Blauran” agar sekolah ikut mendorong roda ekonomi pasar buku bekas.Fasilitasi event reguler
Sediakan izin lokasi, dukungan logistik, dan pemasaran publik untuk bazar buku bulanan, festival literasi, atau pameran buku lama di area Blauran.
Reflektif
Pasar buku bekas Blauran bukan sekadar tempat berjualan buku — ia adalah jejak masa lalu kota, ruang nostalgia literasi, dan potensi ruang sosial berkumpulnya pecinta buku lintas generasi. Sekalipun kondisi sekarang surut, bukan berarti harapan hilang.
Lihat Juga : 5 Dampak Buruk Lemahnya Kebijakan Cukai Rokok di 2025
Melalui sinergi antara pedagang yang inovatif, komunitas yang aktif, serta dukungan pemerintah dan institusi budaya, Pasar Blauran bisa kembali bernapas, bukan sebagai museum buku, tetapi sebagai pasar hidup yang melebur antara fisik dan digital. Jika kita bersama menjaga daya tariknya, generasi muda pun bisa ikut mewariskan cinta pada buku fisik — dan pasar lama ini tidak akan sunyi hilang, melainkan tetap menjadi saksi perjalanan literasi Surabaya.













