Hilang di Tengah Kabut
Pendaki Hilang di Gunung Buthak–Panderman Ditemukan Selamat: Antara Sunyi Hutan dan Cahaya Harapan,, Minggu malam, 17 Agustus 2025, langit di jalur pendakian Gunung Buthak–Panderman dipenuhi kabut tebal. Di sabana pertama, dekat petilasan, tiga pendaki muda dari Sidoarjo mendirikan tenda. Mereka menyalakan lampu kecil, menyiapkan makan malam sederhana. Hutan tampak diam, hanya terdengar desir angin menabrak batang pinus.
Baca Juga : Polisi Tutup Arena Sabung Ayam Dampit dan Bantur: Cermin Pertaruhan Hidup dalam Bayang Hukum
Di situlah awal kisah yang menggetarkan itu terjadi. Chamdan Salman Al Faruq (21), mahasiswa asal Desa Grinting, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo, keluar dari tenda sekitar pukul 23.00 WIB. Ia sempat pamit sebentar untuk buang air. Namun, detik itu juga menjadi momen hilangnya jejak. Malam berlalu, tetapi ia tak kembali. Dua temannya menunggu dengan cemas, berusaha mencari di sekitar jalur, namun nihil. Keesokan harinya, mereka turun melapor ke pos pendakian.
Pencarian Dimulai
Laporan resmi diterima BPBD Kota Batu pada Senin pagi, 18 Agustus 2025. Sejumlah personel gabungan dikerahkan: Basarnas Malang, TNI-Polri, relawan pencinta alam, dan masyarakat setempat. Pencarian dilakukan dengan metode menyisir jalur resmi Panderman hingga punggungan menuju Buthak.
“Kondisi saat itu hujan gerimis, kabut turun dengan jarak pandang hanya 5–10 meter. Medannya berat dan licin,” ujar Koordinator Pos SAR Malang, Asnawi, kepada wartawan. Pencarian berlangsung hingga larut malam, menggunakan senter kepala, kompas, peta, dan perangkat GPS. Drone juga dikerahkan, meski sinyal sering terputus karena tebalnya kanopi hutan.
Sunyi Hutan: Antara Misteri dan Bahaya
Gunung Buthak–Panderman dikenal dengan hutannya yang rapat, penuh jalur satwa liar dan tebing curam. Pendaki yang tak siap mudah kehilangan orientasi. Sejumlah relawan menggambarkan suasana saat pencarian: hening, hanya sesekali terdengar suara burung hantu. Sunyi hutan bukan sekadar diam, tetapi seperti lorong panjang yang bisa membuat seseorang linglung dan kehilangan arah.
Di sinilah filsafat kesunyian terasa. Hutan, dengan segala diamnya, seperti cermin jiwa: ia tak berkata apa-apa, tetapi mampu menelan mereka yang lengah. Chamdan, yang diduga mengalami hipotermia atau penurunan kesadaran karena cuaca dingin, mungkin berjalan tanpa sadar, menjauh dari tenda, lalu semakin tersesat.
Harapan yang Menyala
Meski situasi gelap, semangat tim pencari tidak padam. Setiap jejak sepatu, setiap ranting patah, menjadi petunjuk berharga. Doa keluarga yang menunggu di posko membuat semua tenaga tergerak.
Selasa, 19 Agustus 2025, sekitar pukul 15.29 WIB, kabar baik datang. Tim SAR menemukan sosok yang tergeletak lemah di semak belukar, sekitar 1,1 km dari titik awal pencarian. Chamdan masih hidup. Pakaian basah, tubuhnya lemas, kaki luka-luka akibat duri, tetapi kesadarannya pulih. “Alhamdulillah, korban ditemukan selamat, meski kondisinya butuh perawatan,” kata Kapolsek Bumiaji AKP Slamet Riyadi.
Chamdan segera dievakuasi menuju RSUD Hasta Brata Kota Batu untuk mendapat perawatan medis. Tangis haru pecah di posko SAR saat kabar itu diumumkan. Doa syukur mengalir, bercampur dengan pelukan hangat keluarga.
Kronologi Dua Hari Hilang
Dari keterangan awal, Chamdan mengaku sempat merasa “gelap” dan kehilangan orientasi sejak keluar tenda. Ia berjalan tanpa arah, lalu kelelahan dan bersembunyi di semak. Dua malam ia bertahan hanya dengan air hujan yang ditadah. Tidak ada makanan, hanya keyakinan bahwa ia akan ditemukan.
Lihat Juga : Langit Jawa Timur 21 Agustus 2025: Mendung sebagai Renungan tentang Ketidakpastian
“Kepalanya pusing, tubuhnya dingin, sehingga ia memilih berdiam. Untung tidak jatuh ke jurang,” ungkap seorang relawan yang mengevakuasi. Kondisi itu memperkuat dugaan hipotermia ringan dan disorientasi yang membuat korban tidak kembali ke tenda.
Pelajaran dari Gunung: Filosofi Sunyi dan Cahaya
Kisah ini menyimpan pesan filosofis. Gunung adalah ruang kontemplasi yang sering kita kunjungi untuk mencari ketenangan. Namun, gunung juga mengajarkan bahwa ketenangan bisa berubah menjadi ujian. Sunyi hutan adalah pengingat bahwa manusia hanyalah tamu di rumah alam.
Dalam hidup, seringkali kita “keluar tenda” hanya sebentar, lalu tersesat dalam gelap masalah. Namun, sebagaimana Chamdan, manusia bisa menemukan jalan pulang jika ada cahaya harapan. Cahaya itu bisa berupa doa keluarga, bantuan orang lain, atau kekuatan iman di dalam hati.
Refleksi Sosial: Keselamatan di Atas Segalanya
Kasus ini membuka mata banyak pihak tentang pentingnya protokol keselamatan pendakian. Gunung Buthak–Panderman bukan jalur ringan, apalagi di musim hujan. Para pendaki disarankan membawa perlengkapan standar: peta, kompas, GPS, logistik cukup, pakaian hangat, serta selalu mendaki berkelompok.
“Kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Hilang di gunung bukan hal sepele,” tegas Kepala BPBD Batu, Agung Sedayu. Ia mengimbau agar pendaki lebih disiplin dan selalu mencatatkan diri di pos pantau sebelum naik.
Gunung sebagai Guru
Dalam pandangan filosofis, gunung adalah guru yang keras tetapi adil. Ia menguji kesabaran, kebersamaan, dan kesiapan. Orang yang sembrono akan diajarinya lewat tersesat atau kelelahan. Tetapi bagi yang sabar dan bersiap, gunung memberikan hadiah: pemandangan indah, ketenangan, dan rasa syukur.
Kisah Chamdan adalah gambaran manusia modern yang mencari tenang di alam, tetapi juga harus belajar rendah hati di hadapan semesta. Hilang dua malam di hutan, lalu ditemukan, adalah metafora tentang manusia yang hampir kehilangan arah hidup, lalu diselamatkan oleh cahaya iman dan solidaritas.
Dari Sunyi Menuju Harapan
Chamdan kini pulih, keluarganya kembali tersenyum. Tetapi kisahnya menjadi peringatan abadi: bahwa hutan bisa menelan, gunung bisa menguji, dan hidup selalu membawa risiko. Yang membuat kita bertahan bukan hanya kekuatan tubuh, tetapi juga cahaya harapan—dari doa, dari orang-orang yang peduli, dari keyakinan yang tak padam.
Baca Juga : Siswa SMK Telkom Malang Berprestasi di Korsel, Bikin Bangga Indonesia!
Gunung Buthak–Panderman, dengan sunyi hutannya, hari itu tidak hanya menelan seorang pemuda, tetapi juga mengajarkan kepada kita semua arti kehilangan dan ditemukan kembali. Bahwa dalam sunyi ada bahaya, namun dalam kebersamaan ada cahaya. Dan setiap manusia, sejauh apapun ia tersesat, selalu punya kesempatan untuk kembali pulang.












