Robot Anjing, Drone, dan Kapsul Jamu: Saat Masa Depan dan Tradisi Ngobrol di Panggung ITB
Di dunia yang makin cepat bergerak, ada momen langka di mana teknologi, sains, dan warisan budaya bisa duduk satu panggung, saling menyapa. Momen itu hadir di Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Sasana Budaya Ganesha ITB, 7–9 Agustus 2025. Lebih dari 2.000 saintis dari berbagai penjuru negeri datang, membawa karya, ide, dan mimpi.
Salah satu bintang panggungnya? Robot anjing buatan tim robotika ITS Surabaya. Bukan robot biasa—si berkaki empat ini bisa berdiri, jalan, ngangkat kaki depan kayak mau salaman, bahkan lompat sambil muter badan. Pernah tampil di Monas waktu HUT ke-79 Bhayangkara, robot ini lahir dari kolaborasi ITS dengan PT Ezra Robotics Teknologi.
Lihat Juga : Reaktor Nuklir NASA di Bulan, Langkah Kecil untuk Sains, Lompatan Besar untuk Peradaban
Di balik gerakannya yang lincah, tersimpan teknologi serius: sensor suhu, sensor suara, navigasi LiDAR, GPS, dan otak AI yang bisa deteksi anomali di lingkungan ekstrem. Fungsinya nggak main-main—mulai dari patroli keamanan, inspeksi gardu listrik, sampai pemetaan lingkungan di area bencana. Ada versi mini setinggi 45 cm untuk penggunaan umum, dan versi besar 71 cm untuk kebutuhan industri.
Tapi ITB nggak cuma memamerkan robot. Di ruangan yang sama, drone buatan anak bangsa juga unjuk gigi. Drone FEIA16 karya ITB, misalnya, bisa nyemprot lahan pertanian dari udara. Tangki 16 liter dan 30 liter siap bawa pupuk atau pestisida, dan katanya sudah dipakai di perkebunan pisang Bali sejak tahun lalu.
Di sudut lain, tradisi pun bicara. Peneliti dari IPB memajang jamu dalam kapsul, ramuan dari sidaguri, seledri, dan tempuyung yang diklaim ampuh menurunkan asam urat. Dari warung jamu ke bentuk kapsul modern—sebuah langkah kecil untuk kesehatan, tapi lompatan besar untuk cara kita merawat warisan leluhur.
Filosofi di Balik Panggung: Bruno Latour dan Hibriditas
Filsuf sains dan teknologi asal Prancis, Bruno Latour, dalam bukunya We Have Never Been Modern, mengatakan bahwa manusia tak pernah benar-benar memisahkan sains dari budaya. Kehidupan kita selalu terbentuk dari hibriditas—percampuran antara pengetahuan ilmiah dan nilai-nilai tradisi.
Baca Juga : Dari Tren ke Makna: Mengubah Gaya Hidup Jadi Jalan Hidup
Panggung pameran di ITB ini adalah cerminan teori itu:
Robot anjing dan drone pertanian adalah representasi inovasi modern.
Kapsul jamu adalah tradisi yang dihidupkan kembali lewat teknologi produksi massal.
Di sini, teknologi menjadi jembatan yang menghubungkan mimpi masa depan dengan akar budaya. Seperti kata Latour, kemajuan sejati bukanlah meninggalkan masa lalu, tapi mengajaknya berjalan bersama menuju masa depan.
Konvensi ini terasa seperti metafora hidup: masa depan diwakili oleh robot dan drone, sementara masa lalu yang bijak hadir lewat jamu. Di satu ruangan, kita diajak melihat bahwa kemajuan nggak selalu berarti meninggalkan akar. Kadang, justru di titik pertemuan tradisi dan teknologi inilah peradaban menjadi paling utuh.













