Harapan yang Masih Menggantung
Sekolah Rakyat Permanen di Kota Malang, Menunggu Respons Pusat,Apa yang terjadi ketika sebuah kota sudah menyiapkan lahan untuk pendidikan rakyat, tapi realisasinya terganjal restu pusat? Itulah yang kini dirasakan oleh Pemerintah Kota Malang. Siapa yang terlibat? Pemkot Malang bersama Kementerian terkait. Kapan proses ini dimulai? Usulan sudah diajukan sejak pertengahan 2025.
Baca Juga : Sekolah Roboh di Sidoarjo, Mimpi Siswa Terkubur
Di mana lokasinya? Lahan seluas 8,9 hektare di Jalan Mayjen Wiyono, Kedungkandang, Kota Malang. Mengapa penting? Karena Sekolah Rakyat ini diharapkan bisa menjadi fasilitas permanen untuk ribuan siswa yang selama ini menempuh pendidikan di tempat sementara. Bagaimana perkembangannya? Hingga kini, semua masih menunggu respons dari pemerintah pusat.
Dari Ruang Sementara ke Cita-Cita Permanen
Saat ini, kegiatan Sekolah Rakyat di Kota Malang masih tersebar di dua lokasi: gedung BPSDM Jatim dan Politeknik Kota Malang (Poltekom). Kapasitasnya terbatas, hanya sekitar seratus siswa. Padahal minat masyarakat untuk mendaftarkan anak-anak mereka cukup tinggi.
“Kalau ada gedung permanen, kita bisa menampung sampai seribu siswa. Fasilitas juga lebih layak, tidak numpang lagi,” kata Hendro Santoso, salah satu pengajar di Sekolah Rakyat.
Filosofi sederhana muncul: pendidikan adalah rumah bagi masa depan. Dan rumah itu seharusnya berdiri kokoh, bukan sekadar menumpang di ruang orang lain.
Menggali Makna Sekolah Rakyat
Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi, tapi simbol keberpihakan negara pada kelompok yang sulit menjangkau pendidikan formal. Muridnya datang dari keluarga miskin, pekerja harian, hingga anak putus sekolah.
Bagi banyak orang tua, sekolah ini adalah jembatan. “Kalau tidak ada sekolah rakyat, mungkin anak saya sudah berhenti belajar sejak SMP,” tutur Sulastri (38), warga Kedungkandang.
Baca Juga : 17+8, Janji Transparansi yang Belum Tergenapi
Kisah itu mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya soal gedung, tapi juga soal keadilan sosial.
Potret Persiapan di Malang
Pemkot Malang sudah menyiapkan lahan dengan detail: 8,9 hektare, cukup luas untuk membangun gedung sekolah, asrama, ruang keterampilan, hingga area terbuka hijau. Desain awal bahkan sudah dibuat oleh tim arsitek lokal.
“Kami sudah berusaha maksimal di daerah. Sekarang tinggal menunggu keputusan pusat,” kata Wakil Wali Kota Malang, Ahmad Subandi. Pernyataannya menegaskan bahwa bola ada di tangan pemerintah pusat.
Tantangan yang Membayangi
Namun, jalan menuju sekolah permanen tidak mudah. Anggaran besar dibutuhkan, sementara pusat masih berhitung dengan prioritas nasional. Ada pula kendala regulasi karena lahan yang disiapkan dulunya termasuk kawasan yang harus melalui izin konversi.
“Jangan sampai alasan birokrasi menghambat hak anak-anak belajar,” komentar Dewi Lestari (22), mahasiswa Universitas Negeri Malang. Baginya, ini bukan sekadar proyek, tapi investasi masa depan.
Dinamika yang Terjadi di Malang
Usulan pembangunan Sekolah Rakyat permanen di Malang telah diajukan sejak pertengahan 2025. Pemerintah kota sudah menyiapkan lahan di Jalan Mayjen Wiyono, Kedungkandang, dengan desain awal yang cukup detail. Proyek ini ditujukan agar ribuan siswa bisa belajar di gedung yang layak, tidak lagi berpindah di ruang-ruang sementara.
Kini, bola ada di tangan pemerintah pusat. Semua persiapan di daerah sudah dilakukan, tapi realisasi penuh masih menunggu lampu hijau dari Jakarta. Inilah yang membuat masyarakat bertanya-tanya, kapan janji pendidikan rakyat ini benar-benar diwujudkan.
Dampak bagi Masyarakat
Jika proyek ini disetujui, dampaknya akan terasa luas. Ribuan anak mendapat akses pendidikan gratis dengan fasilitas memadai. Tenaga pengajar juga bisa lebih fokus karena tidak berpindah-pindah lokasi.
Selain itu, keberadaan sekolah permanen akan menciptakan lapangan kerja baru, mulai dari guru, staf administrasi, hingga tenaga teknis. Dari sisi sosial, sekolah ini bisa mengurangi angka putus sekolah di Malang.
Membangun di Atas Harapan
Generasi muda sering melihat pendidikan bukan sekadar kewajiban, tapi hak yang melekat sejak lahir. Filosofi sederhana: sekolah itu ibarat jendela, semakin besar jendela, semakin luas dunia yang bisa kita lihat.
Dengan Sekolah Rakyat permanen, jendela itu akan semakin lebar bagi anak-anak Malang. Mereka tidak lagi harus belajar di ruang pinjaman, tapi punya tempat yang benar-benar milik mereka.
Menunggu Jawaban yang Menentukan
Kini, semua mata tertuju ke pemerintah pusat. Respons mereka akan menentukan apakah rencana ini tinggal janji atau benar-benar jadi kenyataan.
“Kalau pusat serius dengan pemerataan pendidikan, sekolah rakyat ini harus diprioritaskan,” tegas Prof. Yanuar Nugroho, pengamat kebijakan publik.
Sebuah Janji yang Menunggu Wujud
Sekolah Rakyat permanen di Malang adalah cerita tentang janji yang belum ditulis tinta resmi. Di balik angka hektare dan rancangan arsitektur, ada ribuan mimpi yang menggantung.
Lihat Juga : Agentic AI, Mesin yang Membuat Keputusan Sendiri
Pendidikan tidak boleh dibiarkan sebagai wacana. Ia harus hadir nyata, dengan dinding kokoh dan pintu terbuka. Jika pusat memberi restu, Malang akan memiliki rumah baru bagi anak-anaknya untuk belajar, bercita-cita, dan membangun masa depan.









