Jakarta, 28 Agustus 2025, Inilahkabar.com – Tragedi Pejompongan, Nyawa Ojol yang Terlindas Brimob, Demo adalah ruang di mana rakyat bersuara, bagian dari denyut demokrasi yang dijamin konstitusi. Namun, di tengah idealisme itu, seringkali tragedi menyelinap. Seperti yang terjadi di depan DPR RI, ketika unjuk rasa berakhir dengan luka mendalam: seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Hasan kehilangan nyawanya, terlindas mobil Brimob di tengah kericuhan.
Kronologi Aksi Unjuk Rasa
Aksi dimulai sejak sore. Ribuan massa yang terdiri dari mahasiswa, aktivis, hingga pekerja bergabung menyuarakan tuntutan. Mereka membawa spanduk, berorasi, menyanyikan yel-yel. Suara rakyat yang mengalir deras seperti arus sungai, menuntut perubahan kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat kecil.
Baca Juga : Luka di Balik Karnaval Budaya Punten, Tangis Seorang Anak Jadi Cermin Kita
Sekitar pukul 18.00 WIB, suasana mulai memanas. Aparat kepolisian berusaha membubarkan massa. Bentrokan tak terhindarkan: gas air mata ditembakkan, batu beterbangan, dan sirene kendaraan taktis meraung keras. Jalanan Pejompongan menjadi saksi bagaimana demokrasi bisa bergeser jadi drama penuh ketegangan.
Hingga pukul 19.30 WIB, sebuah peristiwa mengejutkan terjadi. Mobil rantis Brimob melaju kencang, berusaha memecah kerumunan. Massa berhamburan. Namun seorang pengemudi ojol, Hasan, yang kebetulan berada di lokasi, tak sempat menyelamatkan diri. Tubuhnya tertabrak, lalu terlindas roda besi.
Tragedi yang Menghentak Nurani
Teriakan saksi yang direkam video viral masih bergema:
“Ya Allah, ya Allah, diinjak, diinjak! Elsa, Elsa diinjak!”
Detik-detik itu bukan sekadar rekaman, tapi cermin getir dari benturan rakyat dengan aparat. Hasan, yang sejatinya hanya melintas mencari rezeki, menjadi korban. Nyawanya melayang di jalan raya ibu kota, di depan gedung yang katanya rumah rakyat.
Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar berita. Namun bagi keluarganya, ini kehilangan besar. Bagi masyarakat luas, ini luka sosial yang menampar kesadaran bersama: apa arti nyawa manusia di tengah pusaran kekuasaan?
Tabel Kronologi Peristiwa
| Waktu | Kegiatan |
|---|---|
| 15:00 | Demonstrasi dimulai di sekitar DPR RI |
| 18:00 | Bentrokan terjadi antara demonstran dan aparat |
| 19:30 | Hasan, pengemudi ojol, terlindas mobil Brimob |
| 21:00 | Video viral, publik bereaksi di media sosial |
Respons Masyarakat dan Kecaman Publik
Tak butuh waktu lama, video itu viral. Tagar #JusticeForHasan, #OjolTerlindas, hingga #BrimobSadis merajai linimasa. Gen Z, milenial, hingga publik luas bersuara di Twitter (X), TikTok, dan Instagram.
Baca Juga : Bubarkan DPR RI Viral Banget Hari Ini, Netizen Ramai-Ramai Komentar Pedas
“Seharusnya polisi menjaga, bukan membunuh. Nyawa rakyat kecil tidak boleh semurah ini,” tulis seorang netizen.
“Apa artinya negara, jika rakyatnya justru dilindas aparat?” sindir yang lain.
Kecaman datang dari aktivis HAM, organisasi masyarakat sipil, hingga akademisi. Mereka menilai tindakan aparat represif dan tidak proporsional.
Pernyataan Pihak Kepolisian
Dalam konferensi pers malam itu, kepolisian menyampaikan belasungkawa. “Kami turut berduka cita atas kehilangan nyawa. Peristiwa ini akan kami investigasi lebih lanjut,” ujar juru bicara Polri.
Namun, banyak yang ragu. Sejarah mencatat, tak sedikit kasus serupa yang berakhir tanpa kejelasan hukum. Masyarakat bertanya-tanya: apakah tragedi Hasan akan menjadi catatan hitam lain yang dilupakan waktu?
Nyawa di Antara Kekuasaan
Tragedi ini membawa kita pada pertanyaan filosofis: apakah demokrasi masih bernilai jika rakyat yang bersuara justru jadi korban?
Albert Camus pernah menulis: “Yang absurd bukan hidup itu sendiri, tapi bagaimana manusia memperlakukannya.”
Dan absurditas itu kini hadir di aspal Jakarta: seorang pencari nafkah, bukan demonstran, kehilangan hidupnya hanya karena mesin kekuasaan melintas tanpa kendali.
Bagi Gen Z, ini bukan sekadar berita. Ini refleksi. Meme, satir, dan tagar yang mereka sebarkan bukan hanya hiburan, tapi bentuk protes kreatif. Melawan tak selalu dengan batu, melawan bisa dengan narasi digital yang menolak bungkam.
Apa yang Bisa Dipelajari?
Tragedi Hasan memberi pelajaran penting:
Dialog Lebih Utama – Aksi massa adalah hak rakyat. Aparat seharusnya mengedepankan dialog, bukan represi.
Nyawa Itu Suci – Setiap warga negara, sekecil apapun perannya, berhak hidup dengan aman.
Transparansi Hukum – Investigasi harus terbuka, akuntabel, dan adil. Tanpa itu, kepercayaan publik kian runtuh.
Doa di Tengah Jeritan
“Ya Allah, ya Allah, ya Allah…”
Itu bukan hanya jeritan panik, tapi doa rakyat kecil yang menggema ke langit.
Doa yang lahir dari tragedi, tapi sekaligus jadi pengingat: bahwa nyawa manusia, sekecil apapun, tak boleh diinjak oleh roda kekuasaan.









