2 Opsi Mandat Baru BI, Stabilitas atau Pertumbuhan?, Bank Indonesia (BI) selama ini dikenal sebagai penjaga stabilitas moneter: memastikan inflasi terkendali, rupiah stabil, dan sistem pembayaran berjalan lancar. Namun, memasuki 2026, muncul wacana memperluas mandat BI: tidak hanya menjaga stabilitas, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi. Pertanyaannya, apakah BI mampu memikul beban ganda itu? Dan apa dampaknya bagi masyarakat?
Baca Juga : 5 Alasan Koperasi Merah Putih Jadi Investasi Desa
Isu ini bukan sekadar soal angka, melainkan juga soal falsafah kebijakan: apakah sebuah bank sentral harus menjadi penonton yang netral atau pemain aktif dalam menggerakkan roda ekonomi bangsa?
Fungsi Utama Bank Sentral
Sejak awal berdiri, BI memegang mandat utama menjaga stabilitas rupiah. Undang-Undang BI menegaskan bahwa prioritasnya adalah pengendalian inflasi dan nilai tukar.
Namun, realitas global menunjukkan tren berbeda. Bank sentral di beberapa negara maju, seperti The Fed di Amerika Serikat, tidak hanya fokus menjaga inflasi, tetapi juga berperan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.
Indonesia kini berada di persimpangan: apakah akan tetap menjaga mandat tunggal, atau menambahkan mandat ganda?
Masalah yang Muncul
Inflasi vs Pertumbuhan
Jika BI terlalu fokus menjaga stabilitas, pertumbuhan bisa tertahan. Suku bunga tinggi demi menekan inflasi sering kali membuat kredit seret, investasi tertunda, dan UMKM kesulitan modal.
Sebaliknya, jika terlalu mendorong pertumbuhan, inflasi bisa melonjak. Stabilitas harga dan nilai tukar terancam. Masyarakat kecil, yang paling sensitif terhadap kenaikan harga, akan paling merasakan dampaknya.
Tekanan Politik
Mandat ganda membuka peluang intervensi politik. Pemerintah bisa saja menekan BI untuk melonggarkan kebijakan moneter agar pertumbuhan terlihat tinggi, terutama menjelang pemilu. Hal ini bisa mengurangi independensi BI.
Opsi Pertama: Menjaga Stabilitas
Mandat stabilitas menempatkan BI sebagai penjaga terakhir ekonomi. Filosofinya sederhana: ekonomi yang sehat harus memiliki pondasi yang kuat, yakni inflasi rendah dan rupiah stabil.
Contoh Nyata
Pada krisis 1998, inflasi melonjak hingga 77%. Ketika itu, lemahnya stabilitas moneter menjadi penyebab runtuhnya kepercayaan publik. Sejak itu, BI meneguhkan fokusnya pada stabilitas.
Lihat Juga : 3 Strategi Tarik Dolar, Menjaga Devisa, Menjaga Negeri
Jika BI tetap berpegang pada mandat stabilitas, masyarakat mendapat kepastian harga yang terkendali. Bagi pelaku bisnis, meski mungkin menghadapi bunga pinjaman lebih tinggi, setidaknya risiko fluktuasi mata uang lebih kecil.
Opsi Kedua: Menambahkan Mandat Pertumbuhan
Mandat baru yang mewajibkan BI mendukung pertumbuhan dianggap bisa menjadi motor penggerak ekonomi nasional.
Analisis
Dengan mandat pertumbuhan, BI dapat menurunkan suku bunga lebih agresif, memperluas likuiditas, dan mendorong kredit produktif. Dampaknya, UMKM mendapat akses modal lebih mudah, investasi lebih deras, dan lapangan kerja tercipta.
Cerita Humanis
Bayangkan seorang pengusaha kecil di Malang yang ingin memperbesar usaha roti. Dengan bunga pinjaman rendah, ia mampu membeli mesin produksi. Dari situ, ia merekrut 10 pekerja baru, memberi nafkah pada 10 keluarga. Inilah sisi humanis dari mandat pertumbuhan: ekonomi tidak hanya angka, tetapi kehidupan nyata.
Namun, risiko tetap ada. Jika kredit terlalu longgar, inflasi bisa naik, dan masyarakat kecil kembali menjadi korban.
Jalan Tengah?
Beberapa ekonom menyarankan agar Indonesia memilih jalan tengah: BI tetap fokus pada stabilitas, tetapi memiliki ruang fleksibilitas untuk mendukung pertumbuhan saat krisis.
Baca Juga : Profil Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Baru RI
Filosofinya mirip dengan pepatah Jawa: “Sakmadya wae” — lakukan secukupnya, jangan berlebihan. Stabilitas tanpa pertumbuhan membuat ekonomi stagnan, pertumbuhan tanpa stabilitas membuat ekonomi rapuh.
Dampak bagi Rakyat dan Pelaku Bisnis
Bagi Pemerintah: Mandat ganda bisa membantu mencapai target pembangunan, namun berisiko jika tidak disertai tata kelola ketat.
Bagi Pelaku Bisnis: Akses modal lebih murah memberi peluang ekspansi, tetapi mereka juga harus siap menghadapi risiko inflasi.
Bagi Masyarakat: Harga stabil memberi rasa aman, sementara pertumbuhan memberi peluang kerja. Dilema ini menunjukkan pentingnya keseimbangan.
Stabilitas atau Pertumbuhan?
Pertanyaan besar tetap menggantung: apakah BI harus tetap fokus pada stabilitas atau menambahkan mandat pertumbuhan?
Secara filosofis, stabilitas adalah akar, sementara pertumbuhan adalah batang dan buah. Tanpa akar, pohon tumbang. Tanpa buah, pohon dianggap tidak berguna.
Dalam konteks humanis, rakyat kecil sebenarnya hanya ingin dua hal: harga terjangkau dan pekerjaan yang layak. Apapun mandat BI, hasil akhirnya harus kembali pada kepentingan manusia, bukan sekadar angka dalam laporan ekonomi.
2 Opsi Mandat Baru BI, Stabilitas atau Pertumbuhan? adalah refleksi kebijakan besar yang akan menentukan arah ekonomi Indonesia ke depan. Apapun pilihannya, BI harus tetap menjaga integritas dan independensinya. Karena pada akhirnya, ekonomi bukan hanya milik pengusaha atau pemerintah, melainkan milik seluruh rakyat Indonesia.







