Bangkitkan Ghiroh Ekonomi, Naharul Ijtima’ jadi Forum Strategis

Artikel314 Dilihat

Soko, Tuban —Semangat khidmah Nahdlatul Ulama kembali bergelora dari akar rumput. Ratusan pengurus dan warga Nahdliyin se-Kecamatan Soko memadati Masjid Jami’ Baiturrohim pada Jumat Pon, 1 Mei 2026, dalam gelaran Naharul Ijtima’ yang diselenggarakan MWC NU Soko. Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan panggilan hati untuk memperkuat jam’iyyah dan merawat perjuangan para masyayikh.

Baca Juga : Salah Kedaden Gus Yahya, Bisa Jadi!

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 14.00 hingga 16.30 WIB ini menjadi momentum strategis untuk konsolidasi organisasi, refleksi sejarah, sekaligus merumuskan arah gerak NU ke depan, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Rois Syuriah MWC NU Soko, KH Shodiqin Abdullah, dalam sambutan iftitahnya menekankan pentingnya kemandirian organisasi. Ia mengingatkan bahwa warga NU memiliki potensi besar, termasuk dalam sektor ekonomi, namun belum sepenuhnya terkelola optimal.

“Kita harus memaksimalkan kekuatan sendiri. Mayoritas toko besar di Soko ini milik warga NU, tapi menggerakkan ekonomi umat masih menjadi pekerjaan rumah,” ujarnya.

smart cincin dzikir
                            smart cincin dzikir

Ia juga menegaskan tiga pilar penting penguatan NU sebagaimana panjatan do’a kiai-kiai kampung. Tiga pilihan tersebut amtara lain keteguhan akidah (salamatan fiddin), kemandirian ekonomi (wa ‘afiyatan fil jasad), dan penguatan keilmuan (wa ziyadatan fil ilmi).

“Ketiganya adalah fondasi untuk membangun kemandirian spiritual, intelektual, dan finansial warga Nahdliyin,” tandas Kiai Shodiqin.

Lihat Juga : Gaji ASN, Pensiunan & Bansos Jadi Perhatian! Ini Penjelasan Pemerintah Awal Tahun

Sementara itu, Ketua MWC NU Soko, KH Anwar, menegaskan bahwa Naharul Ijtima’ bukan sekadar forum rutin, melainkan ruang strategis untuk memperkuat komitmen khidmah dan menjaga nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Ia juga mengingatkan pentingnya memahami sejarah perjuangan para ulama sebagai sumber inspirasi dan spiritualitas gerakan.

“Khidmah harus dibangun dari tengah masyarakat, sekaligus terhubung dengan sejarah perjuangan para masyayikh,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, dua agenda utama menjadi sorotan. Pertama, sosialisasi hasil Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Jawa Timur yang disampaikan oleh KH Muhammad Ma’ruf Zuhdi. Ia menekankan pentingnya menjaga suasana sejuk menjelang Muktamar ke-35 NU serta mengedepankan prinsip nahnuniyyah (kebersamaan), bukan ananiyyah (individualisme).

Lebih jauh, ia mengungkapkan isu-isu strategis yang kini menjadi perhatian NU secara nasional, seperti pentingnya merumuskan fikih teknologi dan kecerdasan buatan (AI), penguatan ketahanan keluarga, serta peran NU dalam menjaga perdamaian global.

“NU harus hadir membawa nilai moderasi dan menjadi bagian dari solusi konflik dunia,” ungkapnya.

Agenda kedua adalah kilas balik sejarah NU Soko yang disampaikan oleh KH Makmur Sanawi. Ia mengulas perjalanan panjang NU di wilayah tersebut, termasuk dinamika organisasi hingga dampak kebijakan nasional terhadap perkembangan pendidikan pesantren dan madrasah.

Refleksi sejarah ini menjadi pengingat bahwa kekuatan NU hari ini tidak lepas dari perjuangan panjang para pendahulu, sekaligus menjadi bekal untuk menghadapi tantangan masa depan, termasuk regenerasi kepemimpinan, penguatan pendidikan nonformal, dan kehadiran nyata dalam persoalan sosial masyarakat.

Baca Juga : Penerimaan Pajak Awal Tahun Dikebut! Ini Strategi Pemerintah Kejar Target APBN

Naharul Ijtima’ kali ini menegaskan bahwa dari Soko, semangat kebangkitan NU terus dirawat—mengakar kuat di lokal, namun berdenyut hingga level nasional dan global. Sebuah bukti bahwa khidmah NU bukan hanya tradisi, melainkan gerakan peradaban yang terus hidup dan relevan sepanjang zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *