Hutang yang Menggiringku Bertemu Diriku Sendiri, Awalnya, aku pikir hutang cuma soal angka. Nominal yang harus dilunasi setiap bulan, bunga yang bikin kesel, dan notifikasi tagihan yang bikin deg-degan. Tapi ternyata, hutang itu seperti cermin—dia memantulkan siapa aku sebenarnya.
Dulu aku gampang banget bilang “iya” untuk semua ajakan: nongkrong, beli gadget baru, liburan dadakan. Rasanya hidup cuma sekali, kenapa nggak dinikmati? Aku nggak sadar, setiap “iya” yang kuberikan untuk kesenangan instan, aku sebenarnya sedang bilang “tidak” pada masa depanku sendiri.
Sampai suatu hari, aku benar-benar di titik nol. Gaji hanya lewat, langsung habis buat cicilan. Sisa untuk makan cuma cukup buat mie instan. Di situlah aku mulai bertanya: kenapa aku begini? Hutang ini cuma gejala, penyakitnya ada di dalam—aku yang nggak bisa menunda keinginan, aku yang takut terlihat “kurang” di mata orang lain.
Lihat Juga : Bijak Meminjam, Selamatkan Masa Depan: Daftar Pinjol Resmi OJK Agustus 2025
Filosof Yunani, Socrates, pernah bilang: “Kenali dirimu.” Lucunya, aku justru mengenal diriku lewat hutang. Bukan lewat momen heroik atau pencapaian besar, tapi lewat malam-malam gelisah menghitung sisa saldo.
Seiring waktu, aku mulai sadar kalau hutang itu bukan cuma tentang uang, tapi juga tentang hubungan. Hubunganku dengan orang yang kupinjamkan uangnya, dengan pihak bank atau aplikasi pinjol, bahkan hubunganku dengan diriku sendiri.
Setiap kali aku bayar cicilan, rasanya seperti aku sedang mengembalikan sedikit demi sedikit bagian dari diriku yang sempat hilang. Bukan cuma saldo rekening yang berkurang, tapi beban di hati juga ikut ringan. Dan anehnya, setiap kali aku melunasi sebagian hutang, aku merasa sedikit lebih… merdeka.
Tapi kebebasan itu nggak datang instan. Ada hari-hari di mana aku nyaris nyerah. Ada momen di mana aku berpikir untuk “nutup hutang pakai hutang baru”. Godaannya besar, apalagi ketika ada tawaran pinjaman kilat yang muncul di notifikasi ponsel. Tapi entah kenapa, kali ini aku ingat rasa sesak waktu pertama kali dikejar tagihan. Aku nggak mau balik ke titik itu lagi.
Hutang mengajarkanku disiplin. Mengajarkanku bahwa setiap pilihan hari ini adalah surat undangan untuk masa depan—entah masa depan yang membahagiakan, atau masa depan yang mengikat. Aku belajar bilang “tidak” pada hal-hal yang dulu selalu kubilang “iya”.
Sekarang, setiap kali ada teman yang cerita sedang terjebak hutang, aku nggak langsung menghakimi. Aku tahu rasanya. Aku tahu pahitnya. Dan aku tahu, kalau dijalani dengan kesadaran, hutang bisa berubah jadi guru yang keras tapi adil.
Pelajaran dari Søren Kierkegaard
Di tengah proses itu, aku menemukan satu nama yang bikin aku merenung: Søren Kierkegaard, filsuf eksistensialis asal Denmark. Dia pernah bilang, “Anxiety is the dizziness of freedom” — kegelisahan adalah pusingnya kebebasan.
Awalnya aku nggak paham. Tapi makin kupikir, makin nyambung. Waktu bebas memilih untuk berhutang, aku juga bebas menggunakannya tanpa perhitungan. Itu kebebasan… tapi juga sumber kegelisahan panjang.
Kierkegaard percaya bahwa manusia hanya akan benar-benar hidup ketika dia berani mengambil tanggung jawab penuh atas pilihannya. Dan di situlah aku merasa tertampar—selama ini aku sibuk mencari kambing hitam: keadaan, gaji kecil, biaya hidup yang naik. Padahal, di balik semua itu, ada aku yang menandatangani perjanjian pinjaman tanpa berpikir panjang.
Baca Juga : Robot Anjing, Drone, dan Kapsul Jamu: Saat Masa Depan dan Tradisi Ngobrol di Panggung ITB
Dari Kierkegaard aku belajar bahwa hutang ini bukan sekadar masalah finansial, tapi sebuah komitmen eksistensial. Aku bebas untuk meminjam, tapi aku juga bebas untuk memperbaiki hidupku. Dan kebebasan itu baru terasa manis ketika aku memilih bertanggung jawab penuh atasnya.
Sekarang, ketika aku melihat kembali perjalanan itu, aku sadar satu hal: hutang bukan musuh, tapi cermin. Dia memantulkan kelemahan, tapi juga menunjukkan kekuatan yang nggak pernah kukira ada.
Di titik terendah, aku menemukan keberanian untuk berubah. Di saat merasa terikat, aku belajar arti kebebasan yang sebenarnya. Dan di tengah rasa takut, aku belajar percaya pada proses.
Mungkin… inilah kebebasan yang sebenarnya: bukan ketika kita tak punya hutang, tapi ketika kita tak lagi diperbudak olehnya.













