Raka, 22 tahun, mahasiswa tingkat akhir di Jakarta, punya hidup yang terlihat normal. Ia kuliah, nongkrong, main game, scroll TikTok, lalu tidur. Dari luar, semuanya baik-baik saja. Tapi di dalam, ada perasaan hampa yang sulit ia pahami.
Suatu malam, ia duduk di rooftop kosannya, menatap lampu kota. “Hidup gue mau ke mana?” batinnya. Ia teringat sebuah kutipan dari Jean-Paul Sartre yang pernah lewat di feed: “Manusia dikutuk untuk bebas.” Bebas memilih, tapi justru kebebasan itu membuatnya bingung arah.
Keesokan harinya, Raka mulai membaca tentang filsafat. Dari Stoikisme, ia belajar fokus pada hal yang bisa ia kendalikan. Dari mindfulness, ia belajar hadir di momen sekarang. Dari Camus, ia mengerti hidup memang absurd, tapi maknanya bisa ia ciptakan sendiri.
Beberapa minggu kemudian, Raka mulai mengubah rutinitasnya. Ia bangun lebih pagi, bukan untuk langsung memegang ponsel, tapi duduk di dekat jendela kosan sambil menulis jurnal. Ia menuliskan tiga hal yang bisa ia syukuri dan satu hal kecil yang ingin ia perbaiki. Awalnya terasa aneh, tapi lama-lama ia merasakan perubahan: pikirannya lebih tenang, dan langkahnya lebih terarah.
Di kampus, Raka mulai memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Ia mendengar keluhan, tawa, dan obrolan ringan, tapi kini ia memandangnya berbeda. Ia tidak lagi sibuk membandingkan hidupnya dengan mereka. Mindfulness mengajarkannya untuk benar-benar hadir di setiap momen.
Beberapa bulan kemudian, Raka berdiri di depan cermin. Rambutnya berantakan, ada lingkar hitam di bawah mata karena tugas akhir, tapi matanya memancarkan cahaya berbeda. “Gue masih nggak tahu masa depan mau ke mana… tapi sekarang, itu bukan masalah,” gumamnya.
Lihat Juga : Moflin: Robot Peliharaan AI dari Casio yang Bikin Gemes Sekaligus Penasaran
Suatu sore saat hujan deras, Raka duduk di teras kampus memperhatikan tetesan air membentuk lingkaran di genangan. Ia teringat kata-kata Albert Camus: “Di tengah musim dingin, aku menemukan ada musim panas yang tak terkalahkan dalam diriku.”
Raka mengerti, rasa kosong itu bukan musuh. Itu adalah panggung kosong, dan dialah sutradara sekaligus pemerannya. Dia bisa memilih cerita apa yang akan dimainkan di atasnya. Ketika teman-temannya bertanya kenapa ia terlihat lebih tenang belakangan ini, Raka hanya tersenyum, “Karena gue berhenti cari arti hidup… dan mulai bikin artinya sendiri.”












